Langsung ke konten utama

Tawuran Warga Pecah di Jl Otista Raya

Tawuran Warga Pecah di Jl Otista Raya
Sumber: beritajakarta.com
Tawuran antar warga pecah di Jalan Otista Raya, Kelurahan Bidaracina, Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (27/11) malam sekitar pukul 19.00.  Tawuran ini merupakan buntut dari tawuran yang terjadi pada Jumat dini hari. Belum diketahui penyebab utama tawuran ini terjadi. Tawuran ini melibatkan warga Tanjung Lengkong dengan Rusun Bidaracina.
Informasi dikumpulkan, tawuran pecah lantaran pada Jumat dini hari, warga Rusun Bidaracina menyerang warga Tanjung Lengkong. Sejumlah mobil milik warga yang diparkir di pinggir jalan dirusak massa. Umumnya kerusakan mobil pada bagian kaca yang dipecah menggunakan benda keras.
“Tadi malam warga Tanjung Lengkong diserang warga Rusun Bidaracina. Banyak mobil warga yang parkir di pinggir jalan dirusak. Sekarang warga Tanjung Lengkong akan balik menyerang namun dicegah aparat kepolisian,” ujar Mahmud (42), salah seorang warga Tanjung Lengkong.
Warga Tanjung Lengkong yang berjumlah lebih dari 100 orang ini membekali diri dengan sejumlah senjata tajam. Mulai dari golok, parang, samurai hingga stik golf.  Namun langkah mereka dihadang aparat kepolisian setempat. Sehingga warga pun memilih berkumpul di tengah Jalan Otista Raya.
Hingga pukul 20.00, ratusan massa masih berkumpul di Jalan Otista Raya, tepatnya ruas jalan dari arah Cawang menuju Kampung Melayu. Akibat kejadian ini, kendaraan tidak ada yang berani melintas di kawasan tersebut. Sejauh ini belum ada keterangan resmi dari pihak terkait. Puluhan polisi juga masih berjaga-jaga di lokasi kejadian. Sesekali polisi melepaskan tembakan gas air mata untuk membubarkan kerumunan massa. Namun massa tetap bertahan di pinggir jalan.
Sementara warga Rusun Bidaracina memilih bertahan di dalam gang yang menuju rusun tersebut. Sejumlah polisi juga berjaga-jaga di mulut gang yang lebarnya hanya sekitar 1,5 meter. Gang tersebut merupakan akses satu-satunya jalan pintas dari Jalan Otista Raya menuju Rusun Bidaracina.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hentikan Reklamasi, Anies Cabut Izin Prinsip 13 Pulau

Pemprov DKI Jakarta mencabut izin prinsip pulau reklamasi di teluk Jakarta. Keputusan ini didasari oleh rekomendasi dari Badan Koordinasi Pengelolaan Pantai Utara (BKP-Pantura) Jakarta. Seiring dengan keputusan tersebut, Izin Prinsip sebanyak 13 pulau yang belum dibangun dicabut. Sementara, untuk pulau lainnya yang sudah selesai dikerjakan akan dikelola untuk kepentingan publik. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan, penghentian tersebut tidak hanya terkait pengerjaannya saja, tapi juga secara keseluruhan. Pasalnya, selain Izin Prinsip, pencabutan juga dilakukan terkait izin pelaksanaan. "Saya nyatakan, reklamasi di Jakarta hanya tinggal menjadi bagian sejarah," ujarnya, saat melakukan konferensi pers di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (26/9). Anies menjelaskan, 13 pulau yang belum dibangun masing-masing yakni, Pulau A, B, dan E (PT Kapuk Naga Indah); Pulau I, J, dan K (PT Pembangunan Jaya Ancol); Pulau M (PT Manggala Krida Yudha); Pulau O dan F (PT Jakarta Prop...

Satpel Bina Marga Jagakarsa Bangun Trotoar di Jalan Joe

Satpel Bina Marga Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan membangun trotoar di Jalan Joe, RW 06, Kelurahan Jagakarsa. Ini sebagai tindak lanjut dari aspirasi masyarakat yang membutuhkan tempat khusus pejalan kaki. "Total ada dua segmen di lokasi yang sama, segmen pertama sepanjang 30 meter sudah rampung pada Rabu (7/11). Segmen kedua 20 meter sedang dipersiapkan penataan materialnya hari ini,” kata Inayozi, Kasatpel Bina Marga Jagakarsa, Kamis (8/11). Pembangunan trotoar tersebut memanfaatkan material kanstin sisa pakai yang masih layak. Tidak hanya membangun, Satpel Bina Marga Jagakarsa juga mengecat kanstin untuk menambah keindahan estetika. "Trotoar kita finishing lalu dicat agar lebih indah dan rapi. Segmen dua ini rampung delapan hari ke depan,” tandasnya. Artikel ini tayang di - Beritajakarta.id

Perpustakaan SMPN 246 Lubang Buaya Memprihatinkan

Kondisi gedung perpustakaan di SMPN 246 Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur memprihatinkan. Akibat lahannya sempit, siswa yang membaca di ruang perpustakaan tersebut dibatasi maksimal hanya 10 orang dan harus duduk lesehan.